Posts

Showing posts with the label Cerpen

Interogasi

“Bukan aku!” Suatu malam di sebuah rumah di Seoul, terjadi keributan secara tiba-tiba. 13 pasang mata saling melemparkan pandangan satu sama lain. Semenjak 30 menit yang lalu, mereka sudah mulai berteriak satu sama lain. Hawa di Seoul saat itu sangat dingin, kontras dengan hawa di dalam ruangan berisi sekumpulan pemuda yang tinggal bersama selama lebih dari lima tahun. “Kan aku sudah bilang, aku tidak mungkin melakukan itu!”, seru pemuda bermata sipit dengan rambut berwarna abu-abu. Dia duduk di sebuah sofa dan dikelilingi oleh 12 pemuda lainnya. Tatapan tajam dari belasan pasang mata seakan-akan menusuk kepalanya. “Hoshi, mengakulah.”, kata pemuda ber-rambut panjang sebahu. “Hyung, aku bersumpah itu bukan aku. Kenapa kalian tidak percaya padaku?”, seru Hoshi sambil menghempas kedua tangannya karena frustasi. “Kau tidak pandai berbohong, Hoshi. Semua sudah terlihat di wajahmu. Sudahlah mengaku saja.”, pemuda berparas tampan dan yang tertua diantara yang lain berusaha membuju...

Kita dan Gaza

Anak kecil itu menangis. Badannya tertimpa reruntuhan bekas sekolah. Beberapa orang mendekat. Namun, BOOOM! Satu lagi roket mendarat tepat di sebelah reruntuhan itu. Dan orang-orang yang berusaha menolong anak kecil itupun ikut tertimpa reruntuhan. BOOM! Roket lainnya meluncur. Membuat seisi kota terdiam… … Namaku Dewi. Dewi si Bocah Aneh, kata mereka. Aku tidak tahu kenapa mereka memanggilku seperti itu. Mereka tidak pernah memberi alasan yang jelas tentang nama panggilanku itu. Saat kutanya, mereka justru terus menyorakiku dengan volume yang lebih ditinggikan. Tapi, ya sudahlah, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. “Heh, De! Ayo main layangan!” “Nggak mau! Nanti kamu curang lagi!” “Aku nggak pernah curang, De.” “Buktinya kemarin layanganku putus karena kamu curang.” Dia temanku. Lebih tepatnya, teman berantemku. Sejak kelas 1 SD dia selalu mengajakku bermain bersama. Tapi akhir-akhirnya, dia pasti curang dan aku harus terima kejailannya. Rafa namanya. Bagi kami, ti...

The Beast Who Cried Love

Once upon a time, there lived a boy named Zelo. He was so handsome that everyone in the town knew him because of his look. Even boys in the town also acknowledged his handsome face. It’s the type of face that you could never forget once you saw him. The other thing that was known from him was his attitude. He likes to mock other people’s appearance. He would yell at people and told them that they were ugly. His bad attitude grew stronger as he became more handsome every day. Zelo liked a girl named Haru. They were bestfriends since they were a kid. Haru liked Zelo too, but she doesn’t want to accept his love because of his attitude. Zelo always gave her a rose everyday. And she always put that rose on a jar and kept it behind her window. One day, they walked on the street with a bag full of fresh bread in their hands. Haru scolded Zelo because he, once again mock other people. “How many times should I tell you to stop calling people ugly?” yelled Haru. “What? He is really ugly...

Fireflies

You would not believe your eyes If ten million fireflies Lit up the world as I fell asleep 'Cause they'd fill the open air And leave tear drops everywhere You'd think me rude but I would just stand and stare  Aku terbangun begitu melihat sebuah, bukan, bukan sebuah, tetapi titik-titik cahaya yang sangat terang keluar dari buku pelajaranku. Tidak, itu tidak nyata. Mungkin aku hanya terlalu banyak bermimpi. Bahkan saat mata terbuka pun aku masih bermimpi. Tapi aku benar-benar penasaran dengan cahaya tadi. Mungkin itu lampu? Ah, mana mungkin lampu bisa terbang sendiri. Atau mungkin itu hewan? Kunang-kunang? Ah, tidak mungkin kunang-kunang bisa keluar dari buku pelajaran. Lalu, apa itu? I'd like to make myself believe That planet Earth turns slowly It's hard to say that I'd rather stay awake when I'm asleep 'Cause everything is never as it seems Kunang-kunang, rupanya. Apa tidak salah? Ya, dunia mimpi memang lebih luas dari galaksi ini. Terkad...

Sesuatu di Balik itu Semua

Saat ibu menyuruhku membeli kelapa tadi pagi, aku agak malas. Tapi, begitu tahu kalau kelapa itu akan digunakan untuk membuat kolak pisang, aku langsung bangkit dan segera mengambil sepedaku. Dengan semangat ’45 aku mengayuhnya menuju toko sayur yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Saat aku berbelok menuju sebuah gang, aku bisa melihat ibu-ibu bergerombol di depan tukang penjual sayur. Rasa malas pun datang kembali. Tapi bayangan kolak pisang yang melintas dipikiranku membuat rasa malas itu pergi dengan sendirinya. Setelah mengantri sangat lama, akhirnya satu bungkus kelapa parut sudah ada di tanganku. Dengan senyum yang mengembang, kukayuh sepedaku kembali menuju rumah. “Sekarang kelapanya diperas dulu.” Ibuku menyodorkan sebuah saringan dan sebuah baskom. Melihat itu, kelapa parut yang ada di tanganku langsung kutaruh. “Aku nggak bisa.” “Jangan bilang nggak bisa, dicoba dulu.” Ibuku mengambil kelapa parut tadi dan menuangnya ke atas saringan. “Tolong ambilkan air.” Aku berd...

Senandung dari Mainland

Seorang petugas perpustakaan sedang duduk sambil memegang cangkir kopinya. Diluar, badai sedang mengamuk Jakarta. Sudah beberapa minggu ini badai sering datang secara terus-menerus. Menyebabkan ketakutan pada setiap orang di Jakarta. Anak-anak sering malas pergi ke sekolah karena hujan yang mengguyur deras selalu membasahi pakaian mereka. Akibatnya bau pengap dan tidak sedap mengisi seluruh bagian kelas. Tapi bukan itu yang terburuk. Gadis di dalam perpustakaan yang sedang sibuk mencari buku itulah yang mendapat gelar pekerjaan paling buruk. Apalagi di musim badai seperti ini dia pasti akan lebih sering mengeluhkan pekerjaannya. Menjadi seorang petugas kebersihan sukarela tidaklah mudah di musim hujan seperti ini. Meskipun pekerjaan membersihkan setiap jalanan di kota Jakarta tidak cocok dengan kata “sukarela”, tetapi Sarah tetap saja ber-“sukarela” untuk membantu menjaga kebersihan kota ini. Di malam badai seperti ini, biasanya gadis itu suka mampir ke perpustakaan setelah menyelesaik...

Kutukan Keju

Lampu di sebuah kamar kecil menyala terang bak kunang-kunang yang sedang berlomba menerangi kegelapan. Buku-buku pelajaran yang membosankan berserakan di atas kasur. Bercampur dengan segala macam barang-barang tidak berguna milik seorang bocah yang kurang peduli terhadap kebersihan. Andy mendesah malas sambil membolak-balik halaman bukunya. Ia sudah terlalu kesal dan benci dengan nama-nama aneh yang ada di buku Sejarahnya. Sesekali Andy mengeluh secara acak di dalam hatinya. Hidup sudah susah, kenapa harus menambah susah dengan membuat nama aneh yang sama sekali tidak bisa dilafalkan oleh lidah-lidah anak muda? Andy memang suka mengeluhkan hidupnya yang menurutnya sangat membosankan. Belum lagi ia setiap hari harus mendatangi sebuah gedung besar, tempat untuk membunuh anak-anak dengan tulisan-tulisan dan angka-angka yang tidak jelas. Semua itu memang terdengar sangat mengerikan. Apalagi Andy yang setiap hari harus duduk di tempat parkir sepeda untuk makan siang. Itu lebih mengerikan la...