Anak kecil itu menangis. Badannya tertimpa reruntuhan bekas sekolah. Beberapa orang mendekat. Namun, BOOOM! Satu lagi roket mendarat tepat di sebelah reruntuhan itu. Dan orang-orang yang berusaha menolong anak kecil itupun ikut tertimpa reruntuhan. BOOM! Roket lainnya meluncur. Membuat seisi kota terdiam… … Namaku Dewi. Dewi si Bocah Aneh, kata mereka. Aku tidak tahu kenapa mereka memanggilku seperti itu. Mereka tidak pernah memberi alasan yang jelas tentang nama panggilanku itu. Saat kutanya, mereka justru terus menyorakiku dengan volume yang lebih ditinggikan. Tapi, ya sudahlah, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. “Heh, De! Ayo main layangan!” “Nggak mau! Nanti kamu curang lagi!” “Aku nggak pernah curang, De.” “Buktinya kemarin layanganku putus karena kamu curang.” Dia temanku. Lebih tepatnya, teman berantemku. Sejak kelas 1 SD dia selalu mengajakku bermain bersama. Tapi akhir-akhirnya, dia pasti curang dan aku harus terima kejailannya. Rafa namanya. Bagi kami, ti...
Once upon a time, there lived a boy named Zelo. He was so handsome that everyone in the town knew him because of his look. Even boys in the town also acknowledged his handsome face. It’s the type of face that you could never forget once you saw him. The other thing that was known from him was his attitude. He likes to mock other people’s appearance. He would yell at people and told them that they were ugly. His bad attitude grew stronger as he became more handsome every day. Zelo liked a girl named Haru. They were bestfriends since they were a kid. Haru liked Zelo too, but she doesn’t want to accept his love because of his attitude. Zelo always gave her a rose everyday. And she always put that rose on a jar and kept it behind her window. One day, they walked on the street with a bag full of fresh bread in their hands. Haru scolded Zelo because he, once again mock other people. “How many times should I tell you to stop calling people ugly?” yelled Haru. “What? He is really ugly...
Setelah beramai-ramai meninggalkan habitatnya, ribuan semut membangun kembali kehidupan mereka. Satu diantaranya adalah seekor semut bermata coklat dengan sepucuk daun yang terlipat rapi di tangannya. Dia bukanlah pasukan pembawa bahan makanan, bukan juga pasukan pengirim surat. Sang semut kecil juga tidak begitu yakin dengan perannya dalam kawanan itu. Yang dilakukannya hanyalah mengikuti alur kehidupan yang dibangun bersama oleh semut-semut lain di sekitarnya. Tak tahu apa yang mungkin akan dijumpainya di depan, tak tahu pula apa yang akan terjadi jika dia berjalan ke belakang. Yang pasti, dia tidak pernah berhenti berjalan. Sepucuk daun di tangannya sudah memiliki banyak garis-garis luka karena terlalu sering dibiarkan dalam posisi tertekuk. Tidak ada satupun semut di kawanan yang tahu tentang daun itu. Hanyalah semut kecil bermata coklat, dan Tuhan yang tahu. Hanya ada satu semut di dunia ini yang menyimpan jutaan perasaan di selembar daun. Perasaan akan sesuatu yang tak akan pern...
Comments
Post a Comment
Please tell me what do you think about this post. I would appreciate it alot!
Thankyou!
Love, Rani.