Layang Layang Selain menulis surat dan dihanyutkan perahu kertas, sesekali ingin kucoba menulis harapan di layang-layang. Kutulis di kertasnya yang tipis, kurekatkan pada bambu penahannya. Kuterbangkan layangan itu, biar dia berdansa dengan udara. Swing atau tango, entahlah. Benangnya akan kupegang erat, lalu di saat aku siap, kulepaskan dengan senang hati. Biarlah layangan harap & doaku pergi. Meninggi. Aku tak tahu kemana angin akan menculiknya. Apakah layang-layang itu akan tersangkut di awan. Terlilit pada temali diantara lekuk jejeran tiang listrik. Sembunyi di ranting pohon yang mulai teranggas benalu. Atau… Terjatuh di atap rumahmu. Yang jelas, aku sudah menuliskan inginku di layangan itu. Semoga terbaca dan aksaranya terselip di iris matamu. ….disitu tertulis juga pesan, aku merindumu. Layang-layangku, jatuhlah di tanah yang kau ingin tuju. Jakarta, 19 Desember 2011 -Rahne Putri Memang akhir-akhir ini aku menemukan kesamaan diriku yang ada...
Once upon a time, there lived a boy named Zelo. He was so handsome that everyone in the town knew him because of his look. Even boys in the town also acknowledged his handsome face. It’s the type of face that you could never forget once you saw him. The other thing that was known from him was his attitude. He likes to mock other people’s appearance. He would yell at people and told them that they were ugly. His bad attitude grew stronger as he became more handsome every day. Zelo liked a girl named Haru. They were bestfriends since they were a kid. Haru liked Zelo too, but she doesn’t want to accept his love because of his attitude. Zelo always gave her a rose everyday. And she always put that rose on a jar and kept it behind her window. One day, they walked on the street with a bag full of fresh bread in their hands. Haru scolded Zelo because he, once again mock other people. “How many times should I tell you to stop calling people ugly?” yelled Haru. “What? He is really ugly...
Setelah beramai-ramai meninggalkan habitatnya, ribuan semut membangun kembali kehidupan mereka. Satu diantaranya adalah seekor semut bermata coklat dengan sepucuk daun yang terlipat rapi di tangannya. Dia bukanlah pasukan pembawa bahan makanan, bukan juga pasukan pengirim surat. Sang semut kecil juga tidak begitu yakin dengan perannya dalam kawanan itu. Yang dilakukannya hanyalah mengikuti alur kehidupan yang dibangun bersama oleh semut-semut lain di sekitarnya. Tak tahu apa yang mungkin akan dijumpainya di depan, tak tahu pula apa yang akan terjadi jika dia berjalan ke belakang. Yang pasti, dia tidak pernah berhenti berjalan. Sepucuk daun di tangannya sudah memiliki banyak garis-garis luka karena terlalu sering dibiarkan dalam posisi tertekuk. Tidak ada satupun semut di kawanan yang tahu tentang daun itu. Hanyalah semut kecil bermata coklat, dan Tuhan yang tahu. Hanya ada satu semut di dunia ini yang menyimpan jutaan perasaan di selembar daun. Perasaan akan sesuatu yang tak akan pern...
Comments
Post a Comment
Please tell me what do you think about this post. I would appreciate it alot!
Thankyou!
Love, Rani.